Seandainya Benar

Pagi ini sangat cerah, Reiza atau yang biasa dipanggil Rei, bangun dengan semangat paginya. Rei mendudukkan dirinya di sofa kesayangannya. Mengingat ini hari libur, dirinya memilih untuk bersantai dirumah. Ia memakan serealnya lalu membuka twitter nya. 

"Ada berita apa hari ini ya?" ucapnya sambil menyuapkan sereal ke mulutnya.

Rei sibuk mengamati timeline twitternya saat ini. Berita yang masih panas saat ini adalah corona. Ya, betul. Saat ini, pandemi masih sangat jadi perbincangan hangat. Tiba-tiba dering handphone Rei berbunyi.
 
 "Halo."

"Rei! Keluar yuk, jalan." ajak seseorang lewat telfon tersebut.

Rei memutarkan matanya, "Lagi pandemi, ga inget?"

Orang diseberang sana mendecak pelan mendengar jawaban Reiza, lalu kembali berbicara, "Rei, new normal kali."

"Tania, ga semua orang pada patuh sama gitu-gituan. Males ah gue."Reiza menolak ajakan temannya itu.

"Gue ga mau tau, gue udah otw. Dadah, see you!" ujar Tania lalu mematikan telfon tersebut.

Rei menggelengkan kepalanya tak percaya, sahabatnya ini memang benar-benar. Akhirnya mau tak mau, Reiza segera melangkahkan dirinya ke kamar unutk bersiap-siap.

Benar saja, 10 menit kemudian sahabatnya itu datang dan langsung mengajaknya untuk segera naik ke mobilnya. Tania menyambutnya dengan sumringah, sementara Rei hanya menampilkan senyum tipisnya yang jelas saja tidak terlihat karena tertutup masker yang ia gunakan.

Sebenarnya, Tania hanya ingin menghirup udara segar. Ia merasa sumpek dan butuh refreshing, katanya. Jadilah Tania mengajak Rei jalan-jalan ke taman. Rei hanya memandangi jendela mobil lalu menghela nafasnya.
 
"Yailah Rei, jangan bete dong. Gue sumpek banget dirumah, lagian udah new normal juga." rayu Tania.
 
Rei akhirnya mengangguk, "Huft, gue cuma khawatir aja. Lo tau kan orang biasanya pada bandel?"
 
Tania lalu tertawa renyah, membuat Rei menjadi bingung.
 
"Ga lah! Lo liat tuh, pada tertib kok!" ucap Tania sambil menunjuk kearah luar.
 
 Rei mengikuti arah tangan Tania lalu terkaget. Sejak kapan orang-orang sangat patuh pada aturan seperti ini?!
 
Rei sangat terkejut dan hanya bisa memandang Tania dengan tatapan tidak percaya.
 
"Rei, kenapa deh? Kaget banget sih muka lo?" Tania terheran dengan tingkah sahabatnya itu.
 
Reiza hanya bisa tersenyum lalu menjadi bersemangat, hal yang ia khawatirkan sudah sirna. Sejujurnya, ia takut bahwa orang-orang masih tidak melakukan physical distancing dan sebagainya.

Setelah sampai ditaman yang mereka tuju, Rei buru-buru keluar untuk menghirup udara segar. Taman ini pun juga seperti taman yang ada di luar negeri, sangat amat hijau. Tania yang melihat kelakuan sahabatnya itu hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya. 

"Rei, sini bisa tiduran!" ajak Tania yang dibalas dengan anggukan antusias dari sang sahabat.

Mereka merebahkan diri di taman tersebut lalu Reiza mulai memejamkan matanya, berniat untuk menikmati suasana lebih dalam lagi.

*KRINGG*

Reiza terbangun mendengar suara jam wekernya. Ia bingung, kenapa ia bisa tertidur disni? Bukannya ia dan Tania sedang bermain ditaman? Atau semua itu hanyalah mimpinya saja? 

Seandainya semua nyata, pasti pandemi akan cepat berakhir.

Comments